Oleh: Adnan Ahmad
Agama seharusnya menjadi kekuatan yang menyatukan manusia, bukan senjata untuk saling meniadakan. Agama hadir membawa pesan tentang kasih sayang, keadilan, kedamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Namun, dalam kehidupan sosial-politik, agama tidak jarang ditarik ke ruang yang justru bertentangan dengan misi sucinya. Identitas keagamaan digunakan untuk membangun batas antara “kami” dan “mereka”, antara kelompok yang dianggap benar dan kelompok yang dicap sesat, antara warga negara yang dianggap lebih religius dan mereka yang dipandang kurang beriman.
Ketika agama mulai dijadikan alat untuk memecah bangsa, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan tafsir keagamaan. Yang dipertaruhkan adalah masa depan kehidupan bersama. Bangsa yang masyarakatnya beragam tidak akan pernah mampu bertahan jika perbedaan agama, mazhab, organisasi, pilihan politik, dan ekspresi keberagamaan terus dipertentangkan. Indonesia terlalu besar untuk dipersempit oleh fanatisme. Indonesia terlalu majemuk untuk dipaksa menjadi seragam.
Di sinilah karakter moderasi beragama menjadi penting. Moderasi bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama. Moderasi juga bukan sikap mencampuradukkan ajaran agama atau relativisme yang menganggap semua kebenaran sama. Moderasi adalah cara beragama secara dewasa: teguh dalam keyakinan, tetapi tidak merasa berhak merendahkan keyakinan orang lain; taat menjalankan agama, tetapi tetap menghormati hukum dan kehidupan bersama; memiliki prinsip, tetapi tidak kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.
Agama dan Godaan Politik Identitas
Sejarah menunjukkan bahwa agama memiliki daya pengaruh yang sangat besar dalam membentuk perilaku masyarakat. Karena itu, agama selalu menjadi kekuatan strategis dalam kehidupan publik. Persoalannya muncul ketika kesucian agama diperalat untuk kepentingan yang sesungguhnya bersifat duniawi.
Politik identitas keagamaan dapat menjadi sangat berbahaya ketika perbedaan pilihan politik diterjemahkan sebagai perbedaan iman. Orang yang berbeda pilihan dianggap tidak berpihak kepada agama. Kelompok yang berbeda pandangan dicurigai sebagai ancaman. Kritik terhadap kebijakan dipersepsikan sebagai penghinaan terhadap agama. Bahkan, tidak jarang simbol-simbol keagamaan digunakan untuk membungkus kepentingan kekuasaan.
Di titik inilah batas antara agama sebagai sumber moral dan agama sebagai instrumen politik menjadi kabur.
Agama memang tidak boleh dipisahkan dari nilai moral kehidupan publik. Tetapi nilai agama semestinya hadir sebagai inspirasi etis, bukan sebagai alat untuk memonopoli kebenaran dan kekuasaan. Agama seharusnya mendorong keadilan, kejujuran, amanah, penghormatan terhadap manusia, pemberantasan korupsi, kepedulian terhadap kaum lemah, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Ironisnya, kita terkadang menyaksikan perdebatan keagamaan berlangsung sangat keras, sementara persoalan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan diskriminasi justru kurang mendapatkan perhatian. Seolah-olah kesalehan cukup diukur dari kemampuan seseorang memenangkan perdebatan tentang simbol, sementara kepekaan terhadap penderitaan manusia diletakkan di pinggir.
Padahal, agama kehilangan daya transformatifnya ketika kesalehan hanya berhenti pada identitas.
Moderasi Bukan Kompromi Akidah
Salah satu kesalahpahaman yang harus diluruskan adalah anggapan bahwa moderasi berarti kompromi terhadap keyakinan agama. Tidak demikian.
Seorang Muslim tetap dapat meyakini Islam sebagai agamanya dengan penuh keyakinan sekaligus menghormati umat agama lain. Keyakinan yang kuat tidak membutuhkan kebencian kepada orang lain. Justru kedewasaan beragama terlihat ketika seseorang mampu membedakan antara keteguhan iman dan kesombongan identitas.
Moderasi menuntut keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama. Kesalehan individual harus berjalan bersama kesalehan sosial. Ibadah yang dilakukan dengan tekun seharusnya melahirkan kejujuran, kepedulian, toleransi, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Dalam perspektif Islam, prinsip wasathiyyah mengajarkan jalan tengah yang adil dan proporsional. Moderasi juga berkaitan dengan tawazun, yaitu keseimbangan; i‘tidal, yaitu sikap lurus dan adil; tasamuh, yaitu toleransi; serta musawah, yaitu kesetaraan manusia dalam kehidupan sosial.
Karakter seperti inilah yang sangat dibutuhkan Indonesia.
Kita membutuhkan masyarakat yang beragama dengan teguh sekaligus berbangsa dengan dewasa. Kita membutuhkan umat yang mencintai agamanya tanpa harus membenci agama lain. Kita membutuhkan warga negara yang kritis terhadap pemerintah tanpa menjadikan perbedaan politik sebagai permusuhan sosial. Kita membutuhkan generasi muda yang mampu menggunakan kebebasan berekspresi tanpa menjadikan media sosial sebagai arena penghinaan dan penyebaran kebencian.
Bahaya Ketika Perbedaan Menjadi Permusuhan
Perbedaan adalah kenyataan yang tidak mungkin dihapus. Bahkan, perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah. Persoalannya bukan bagaimana menghilangkan perbedaan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan agar menjadi energi kemajuan.
Bangsa yang gagal mengelola perbedaan sesungguhnya sedang menanam benih kehancurannya sendiri. Perbedaan bukanlah ancaman; yang berbahaya adalah ketika perbedaan diproduksi menjadi prasangka, dipelihara menjadi kebencian, lalu diperdagangkan sebagai alat untuk merebut pengaruh dan kekuasaan. Masyarakat tidak pecah karena berbeda agama, suku, pilihan politik, atau pandangan hidup. Masyarakat pecah ketika perbedaan kehilangan akal sehat dan berubah menjadi permusuhan. Pada titik itulah keberagaman yang semestinya menjadi kekuatan bangsa justru dapat disulap menjadi senjata untuk saling mencurigai, saling menyingkirkan, bahkan saling menghancurkan. Media sosial memperbesar persoalan ini. Satu potongan video dapat memicu kemarahan jutaan orang. Satu pernyataan yang keluar dari konteks dapat menjadi bahan persekusi digital. Algoritma media sosial bahkan cenderung mempertemukan seseorang dengan informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri. Akibatnya, masyarakat hidup dalam ruang informasi yang berbeda-beda dan semakin sulit berdialog. Dalam situasi seperti itu, agama sangat mudah dijadikan bahan provokasi.
Ayat dapat dipotong dari konteksnya. Ceramah dapat dipelintir. Perbedaan pendapat keagamaan dapat dibingkai sebagai pertarungan antara iman dan kekafiran. Sentimen primordial dapat dibangkitkan demi mendapatkan dukungan politik atau keuntungan kelompok.
Jika masyarakat kehilangan kemampuan untuk melakukan tabayyun, maka kebohongan dapat tampil sebagai kebenaran. Jika masyarakat kehilangan budaya dialog, maka perbedaan akan mudah berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, moderasi beragama harus dibangun bersamaan dengan literasi digital. Orang yang moderat bukan hanya mampu menghargai perbedaan, tetapi juga mampu menahan diri untuk tidak segera percaya, marah, dan membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Prinsip sederhana “berpikir sebelum membagikan” harus menjadi bagian dari etika keberagamaan di era digital.
Jangan Mengklaim Tuhan untuk Kepentingan Kelompok
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan beragama adalah ketika manusia merasa berbicara atas nama Tuhan untuk membenarkan kepentingannya sendiri.
Kita boleh meyakini kebenaran ajaran agama. Namun, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam memahami kehendak Tuhan. Tafsir manusia terhadap teks agama tidak identik dengan Tuhan itu sendiri. Karena itu, perbedaan tafsir merupakan sesuatu yang wajar dalam tradisi intelektual keagamaan.
Masalah muncul ketika tafsir pribadi atau tafsir kelompok diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh diperdebatkan. Dari sinilah lahir sikap mudah menyesatkan, mengkafirkan, menghakimi, bahkan menghalalkan kekerasan terhadap kelompok lain.
Padahal, sejarah peradaban Islam menunjukkan kekayaan tradisi intelektual yang dibangun melalui perdebatan ilmiah. Perbedaan pendapat tidak selalu menjadi sumber perpecahan. Dalam banyak kasus, perbedaan justru melahirkan kemajuan pemikiran.
Karena itu, umat beragama perlu membangun kembali budaya ilmu. Perdebatan harus didasarkan pada argumentasi, bukan caci maki. Perbedaan pendapat harus diselesaikan melalui dialog, bukan intimidasi. Kritik harus dijawab dengan gagasan, bukan pelabelan.
Agama akan menjadi kekuatan besar ketika umatnya memiliki kedalaman ilmu dan keluasan hati.
Moderasi sebagai Karakter Kebangsaan
Moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai slogan pemerintah atau jargon dalam seminar. Ia harus menjadi karakter kebangsaan yang hidup dalam perilaku sehari-hari.
Moderasi harus terlihat di rumah, sekolah, kampus, pesantren, tempat ibadah, kantor pemerintahan, ruang publik, dan media sosial. Anak-anak perlu diajarkan bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan. Mahasiswa perlu dibiasakan berdialog dengan orang yang berbeda pandangan. Para pemimpin agama perlu memberikan teladan bahwa dakwah tidak identik dengan penghukuman terhadap kelompok lain.
Demikian pula negara memiliki tanggung jawab besar. Negara harus hadir secara adil dalam melindungi kebebasan beragama dan memastikan tidak ada warga negara yang diperlakukan secara diskriminatif. Hukum harus berdiri di atas kepentingan kelompok dan tidak boleh menjadi alat untuk memenangkan identitas tertentu.
Moderasi juga membutuhkan keadilan sosial. Sulit berbicara tentang persatuan jika ketimpangan dibiarkan melebar. Sulit mengajak masyarakat menjaga kerukunan jika sebagian warga merasa tidak mendapatkan keadilan. Ketidakadilan ekonomi, hukum, dan politik dapat menjadi bahan bakar yang memperbesar konflik identitas.
Karena itu, moderasi beragama harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial.
Peran Tokoh Agama
Tokoh agama mempunyai posisi yang sangat strategis. Masyarakat masih menaruh kepercayaan besar kepada ulama, pendeta, pastor, biksu, rohaniwan, dan pemimpin keagamaan lainnya. Kata-kata mereka dapat menenangkan, tetapi juga dapat memanaskan suasana.
Karena itu, otoritas keagamaan harus digunakan secara bertanggung jawab.
Ceramah agama semestinya menjadi ruang pencerahan, bukan ruang provokasi. Mimbar keagamaan seharusnya mengajarkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Perbedaan pilihan politik jangan dibawa menjadi permusuhan antartetangga. Kritik terhadap kelompok lain harus dilakukan dengan bahasa yang beradab.
Para tokoh agama juga perlu berani mengoreksi umatnya sendiri ketika fanatisme mulai berubah menjadi kebencian. Membela agama tidak berarti membela setiap tindakan yang dilakukan atas nama agama.
Justru keberanian mengatakan “ini salah” ketika sebuah tindakan bertentangan dengan nilai agama merupakan bentuk kecintaan terhadap agama.
Pendidikan sebagai Benteng Moderasi
Karakter moderasi tidak lahir secara instan. Ia harus ditanamkan melalui pendidikan yang panjang.
Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi ruang perjumpaan berbagai perbedaan. Pendidikan agama jangan hanya mengajarkan pengetahuan tentang hukum dan doktrin, tetapi juga membentuk akhlak sosial. Peserta didik harus diajarkan bagaimana menghormati orang yang berbeda, menyelesaikan konflik secara damai, berdialog secara sehat, dan menggunakan media digital secara bertanggung jawab.
Pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi keagamaan memiliki peluang besar untuk menjadi laboratorium moderasi. Di tempat-tempat inilah generasi muda dapat belajar bahwa menjadi religius tidak harus eksklusif.
Moderasi bukan menjadikan agama semakin lemah. Sebaliknya, moderasi membuat agama hadir dengan wajah yang lebih substantif: membela kemanusiaan, memperjuangkan keadilan, dan membangun perdamaian.
Persatuan Lebih Besar daripada Kepentingan Kelompok
Indonesia dibangun bukan untuk satu kelompok agama, etnis, atau golongan. Indonesia dibangun sebagai rumah bersama.
Pancasila dan konstitusi memberikan kerangka kehidupan yang memungkinkan masyarakat yang berbeda-beda hidup dalam satu bangsa. Karena itu, kecintaan terhadap agama dan kecintaan terhadap bangsa tidak perlu dipertentangkan.
Justru agama dapat menjadi energi moral bagi pembangunan bangsa.
Orang yang religius semestinya menjadi warga negara yang paling jujur. Orang yang rajin beribadah semestinya paling peduli kepada kaum miskin. Orang yang berbicara tentang kesucian agama semestinya paling keras menolak korupsi. Orang yang mengajarkan amar makruf nahi mungkar semestinya berani melawan ketidakadilan.
Inilah ukuran keberagamaan yang jauh lebih penting daripada sekadar mempertontonkan identitas.
Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sibuk mempertentangkan siapa paling benar. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia yang bersedia bekerja sama dalam kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Jangan Wariskan Kebencian kepada Generasi Berikutnya
Generasi muda hari ini akan menentukan wajah Indonesia beberapa dekade mendatang. Jika mereka diwarisi budaya saling mencurigai, mereka akan tumbuh dalam masyarakat yang mudah terpecah. Tetapi jika mereka diwarisi budaya dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan, Indonesia memiliki masa depan yang lebih kokoh.
Karena itu, jangan jadikan agama sebagai warisan kebencian.
Wariskan kepada anak-anak kita agama yang menghadirkan kedamaian. Ajarkan mereka bahwa berbeda keyakinan bukan alasan untuk merendahkan manusia. Ajarkan bahwa mencintai agama tidak berarti membenci pemeluk agama lain. Ajarkan bahwa menjadi Muslim yang baik berarti menjadi manusia yang baik, warga negara yang baik, dan tetangga yang baik.
Kita harus berhenti mengukur keberhasilan keberagamaan dari seberapa keras seseorang menyerang kelompok lain. Ukuran keberagamaan justru harus terlihat dari seberapa besar kehadirannya memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pada akhirnya, Indonesia tidak akan hancur karena perbedaan. Indonesia akan hancur jika perbedaan diperalat menjadi kebencian. Karena itu, pesan yang harus terus diulang adalah sederhana tetapi sangat penting: jangan jadikan agama alat memecah bangsa.
Jadikan agama sebagai sumber moral untuk memperkuat persaudaraan. Jadikan keberagamaan sebagai jalan menuju keadilan. Jadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling belajar. Jadikan moderasi sebagai karakter dalam kehidupan bersama. Agama tidak membutuhkan kebencian untuk membuktikan kebenarannya. Agama justru akan semakin mulia ketika mampu melahirkan manusia yang damai, adil, rendah hati, dan menghormati sesama.
Indonesia tidak akan kuat karena semua orang dipaksa menjadi sama. Indonesia justru kuat karena mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dan keberagaman sebagai energi kebangsaan. Persatuan bukanlah proyek untuk menghapus perbedaan, melainkan komitmen untuk hidup bersama di tengah perbedaan. Sebab, ketika keberagaman dianggap sebagai ancaman dan keseragaman dipaksakan sebagai ukuran persatuan, saat itulah bangsa ini mulai kehilangan jati dirinya. Indonesia tidak membutuhkan keseragaman; Indonesia membutuhkan persatuan yang kokoh di tengah keberagaman.
Di tengah derasnya arus politik identitas, polarisasi digital, dan mengerasnya fanatisme kelompok, moderasi bukan pilihan tambahan. Ia adalah kebutuhan kebangsaan. Tanpa moderasi, agama mudah diperalat dan perbedaan mudah dibakar. Dengan moderasi, agama dapat kembali pada fungsi luhur yang sesungguhnya: menjadi cahaya moral bagi manusia dan kekuatan yang merawat persatuan bangsa. Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang mampu menghapus perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan untuk hidup bersama.
