Semarang, UIN Walisongo Online — Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo menggelar Studium Generale bertajuk “Menjadi Manusia yang Kritis dan Bijaksana di Era Digital” di Aula Gedung Q, Selasa (8/9/2026). Kegiatan wajib bagi mahasiswa angkatan 2024, 2025, dan 2026 ini dipandu oleh Hasan Labiqul Aqil, M.A. selaku moderator dan menghadirkan Cendekiawan Muslim sekaligus Akademisi Filsafat, Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., sebagai narasumber utama.

Di hadapan ratusan peserta yang memadati aula dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Pak Faiz memaparkan bahwa masyarakat modern saat ini hidup di tengah pusaran keruwetan (disruption) dan kelimpahan informasi. Menurutnya, di era banjir data seperti sekarang, masyarakat tidak cukup hanya membaca secara mandiri, tetapi membutuhkan panduan serta jejaring komunitas agar tidak tersesat.

“Setiap kali teknologi baru lahir dan menawarkan kemudahan, ia selalu membawa serta risiko dan dampak sampingannya sendiri,” terang Pak Faiz.

Beliau menambahkan bahwa fenomena psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO), online disinhibition effect, hingga ruang gema (echo chambers) makin memperparah kerapuhan identitas manusia digital. Pergeseran ini turut mengubah peran dosen, yang kini bukan lagi sekadar penyedia informasi di tengah masifnya kecerdasan buatan, melainkan sebagai pemandu untuk menemukan kebijaksanaan.

Lima Tipologi Mentalitas Merespons Zaman

Dalam pemaparannya, Pak Faiz memetakan lima tingkatan mentalitas manusia dalam merespons dinamika dan krisis zaman:

  • Mental Magis: Menerima segala sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa mempertanyakan akar masalah.

  • Mental Naif: Mengetahui hal yang benar dan salah, namun bersikap masa bodoh dan melempar tanggung jawab.

  • Mental Apatis: Bersikap cuek total serta kehilangan harapan terhadap perubahan sosial.

  • Mental Fanatik: Berpikir kaku, dogmatis, dan meyakini tunggal solusi dari kelompoknya sendiri.

  • Mental Kritis: Puncak kesadaran yang menggunakan nalar kritis untuk mendorong perubahan nyata dan membebaskan sesama dari ketidakadilan.

Navigasi Pemikiran Filosofis dan Hakikat Kebijaksanaan

Pak Faiz menegaskan bahwa kebijaksanaan tumbuh dari proses membaca, memperluas wawasan, serta keterlibatan pengalaman empiris di lapangan yang ditopang oleh dimensi spiritualitas. Untuk menavigasi kehidupan modern yang bergerak cepat, beliau menawarkan lima mazhab pemikiran yang dapat dijadikan jangkar mental:

  • Stoikisme: Melatih seni mengendalikan diri dan memilah hal yang berada di luar kontrol pribadi.

  • Eksistensialisme: Mengajak untuk bertanggung jawab penuh atas pilihan hidup dan menemukan makna autentik.

  • Humanisme: Merawat harkat dan martabat kemanusiaan di tengah dehumanisasi teknologi.

  • Posmodernisme: Membaca secara kritis dunia citra dan realitas semu yang diciptakan oleh media.

  • Spiritualisme / Filsafat Agama: Menghidupkan dimensi batiniah agar manusia tidak kehilangan arah.

Tantangan Generasi Z dan Komitmen Pendidikan

Memasuki sesi tanya jawab, Pak Faiz menanggapi pandangan mengenai dinamika Generasi Z di tengah derasnya arus informasi. Beliau menyampaikan optimismenya terhadap Gen Z untuk membuktikan keunggulan nalar kritis mereka demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Upayakan selalu untuk merawat dan menghidupkan mental kritis dalam diri setiap waktu,” tegas Pak Faiz saat merespons pertanyaan peserta.

Di akhir sesi, Pak Faiz menekankan pentingnya peran pendidik dalam mendampingi dan memformulasikan ruang tumbuh bagi mahasiswa sebagai agen perubahan masa depan. Beliau memilih untuk memfokuskan seluruh energinya pada dunia pendidikan demi merawat ketajaman nalar generasi muda.

“Pilihan saya adalah membersamai, mendidik, dan membimbing para mahasiswa agar memiliki cara berpikir yang kritis dan bijaksana. Harapannya, dari tangan para mahasiswalah kelak lahir generasi pemimpin baru yang membawa kebaikan bagi bangsa,” pungkas Pak Faiz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *